Kelapa Kampit, Diskominfo SP Beltim – Lantunan sholawat dan doa menggema dari halaman Pondok Pesantren Roudlotus Sahliyyin Al-Mustarsyidin, Desa Mayang, Kecamatan Kelapa Kampit, Selasa malam (08/09/2026). Ratusan jamaah berkumpul mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul Al-Habib Abdulloh Al-Jufri ke-29, Haul KH Achmad Sahli AQ ke-9, serta 100 hari wafatnya Ustadz Achmad Mahfudz.
Kegiatan yang digelar PP Roudlotus Sahliyyin Al-Mustarsyidin yang diasuh Ustadz Maskur Rohman tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengenang sosok ulama dan tokoh agama yang telah memberikan ilmu serta pengabdian di tengah masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kelapa Kampit, Yudi Brahma yang mewakili Bupati Belitung Timur (Beltim), perwakilan TNI dan Polri, tokoh agama, tokoh adat, para ustadz, pengasuh pondok pesantren, serta masyarakat.
Dalam sambutannya, Yudi mengajak jamaah melihat kembali perjalanan Islam di Indonesia, termasuk perkembangan Islam di Belitung. Ia menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Nusantara membawa pencerahan tentang konsep tauhid bagi masyarakat yang sebelumnya memeluk ajaran Hindu, Buddha maupun kepercayaan lokal.
“Islam masuk ke Indonesia membawa pencerahan tentang konsep tauhid kepada masyarakat,” ujar Yudi.
Yudi juga menyinggung perkembangan tradisi Islam di masyarakat, termasuk kesenian hadrah yang menjadi bagian dari syiar melalui lantunan sholawat. Menurutnya, berbagai tradisi keagamaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan penyebaran dan penguatan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Yudi menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk meneladani kehidupan dan perbuatan Rasulullah SAW.
“Hari ini kita bersama-sama merayakan Maulid Nabi. Tapi yang paling penting, inti syiar hari ini adalah meneladani segala perbuatan Nabi Muhammad SAW, katanya.
KH Abdul Aziz Ajak Jamaah Teladani Rasulullah
Ceramah kemudian disampaikan KH Abdul Aziz Achmad Sahli AQ Al-Hafidz. Ia mengawali tausiyahnya dengan menceritakan kisah Sayyidina Anas bin Malik r.a., salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Anas bin Malik mulai mendampingi Rasulullah SAW sejak berusia sekitar 10 tahun dan selama 10 tahun berada bersama Nabi hingga Rasulullah SAW wafat.
Kisah tersebut menggambarkan kedekatan Anas bin Malik dengan Rasulullah SAW sekaligus menjadi teladan tentang bagaimana kecintaan kepada Nabi diwujudkan melalui kedekatan, penghormatan dan upaya mengikuti ajaran beliau.
Dari kisah tersebut, KH Abdul Aziz mengajak jamaah untuk terus berusaha mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keteladanan Nabi tidak harus langsung diamalkan secara sempurna, tetapi dapat dimulai dari hal-hal kecil yang mampu dilakukan.
“Kita tidak harus menunggu bisa mengikuti semuanya. Walaupun baru satu persen, yang penting kita mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Sedikit demi sedikit kita amalkan dalam kehidupan kita, karena yang penting ada kemauan untuk meneladani beliau,” tuturnya.
Pesan keteladanan tersebut kemudian ia kaitkan dengan kehidupan rumah tangga. Bagi jamaah yang telah menikah, ia mengingatkan pentingnya menjaga rumah tangga dengan baik. Sementara bagi orang tua, pendidikan anak menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau sudah menikah, jaga rumah tangga dengan baik. Kemudian anak-anak kita, kalau ada kesempatan, antarkan ke pondok pesantren. Biar mereka mendapatkan ilmu, belajar agama, sekaligus belajar mandiri. Itu menjadi bekal mereka untuk menjalani kehidupan,” katanya.
KH Abdul Aziz juga menjelaskan makna peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Maulid merupakan bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah SAW, bukan menjadikan Nabi sebagai objek penyembahan.
“Maulid ini kita peringati karena kita mencintai Nabi Muhammad SAW. Bukan berarti kita menyembah Nabi. Nabi kita cintai, kita ikuti ajarannya dan kita teladani perbuatannya, tetapi yang kita sembah hanya Allah SWT,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak merasa bosan menerima nasihat dan ceramah yang mengajak kepada kebaikan.
“Jangan bosan dengan nasihat dan jangan bosan mendengarkan ceramah yang baik. Siapapun yang menyampaikan, kalau isinya baik dan mengingatkan kita kepada kebaikan, maka dengarkan. Karena kita semua membutuhkan nasihat untuk mengingatkan diri kita,” pesannya.