Beranda / Berita / Detil Berita

KAMPIFF Gerakkan Ekonomi Kelapa Kampit, Bupati Dorong Jadi Agenda Tahunan

24 Okt 2026, 10:51 WIB • Feji
utama #Festival Film 54x dibaca

Bagikan

Kelapa Kampit, Diskominfo SP Beltim – Kampit Short Film Festival (KAMPIFF) 2026 mencapai malam puncaknya pada Jumat (23/10/2026), setelah rangkaian pemutaran film berlangsung sejak 15 Oktober di Lapangan Segitiga atau Lapangan Sri Banun, Kelapa Kampit. Festival film yang melibatkan peserta kategori pelajar dan umum ini tidak hanya menjadi ruang kreativitas anak muda, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Selama penyelenggaraan, aktivitas perdagangan di sekitar lokasi pemutaran film mengalami peningkatan. Perputaran uang selama delapan malam festival diperkirakan mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta, dengan omzet harian pelaku usaha berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta.

Ketua Panitia KAMPIFF, Jodi Nuari mengatakan peningkatan aktivitas ekonomi itu menjadi salah satu manfaat yang dirasakan masyarakat dari penyelenggaraan festival film. Kehadiran penonton membuka peluang bagi pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualan.

“Selain menjadi ruang kreativitas dan perkembangan perfilman daerah, KAMPIFF juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya para pelaku usaha di Kelapa Kampit,” kata Jodi dalam laporan panitia pada malam puncak.

Menurut Jodi, angka perputaran uang tersebut menunjukkan bahwa kegiatan perfilman dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan karya dan menyelenggarakan kompetisi. Ia berharap manfaat itu bisa terus dirasakan masyarakat melalui penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami berharap KAMPIFF berkelanjutan, baik bagi perkembangan perfilman maupun kesejahteraan masyarakat Beltim dan Belitung. KAMPIFF bukan hanya sekadar film, tetapi langkah bersama untuk menumbuhkan kreativitas dan memajukan perfilman daerah,” ujarnya.

Penyelenggaraan festival ini mendapat perhatian Bupati Belitung Timur (Beltim), Kamarudin Muten. Ia menilai antusiasme masyarakat dan anak muda menjadi modal penting untuk mengembangkan kegiatan perfilman di daerah. Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap Wakapolda Bangka Belitung, Brigjen Pol Murry Miranda, yang merupakan teman masa kecilnya di Kelapa Kampit dan ikut mendukung kegiatan tersebut.

“Saya melihat antusiasme acara ini luar biasa. Terima kasih Pak Murry sudah membangkitkan semangat anak muda di sini,” kata Kamarudin.

Bupati mengatakan telah membicarakan kemungkinan dukungan anggaran untuk KAMPIFF pada tahun mendatang bersama Ketua DPRD Beltim. Ia juga meminta Dinas Pariwisata Beltim memberi perhatian terhadap keberlanjutan festival agar anak muda memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui film.

“Mudah-mudahan tahun depan kita anggarkan KAMPIFF ini supaya Belitung Timur betul-betul maju, supaya anak muda lebih kreatif dan bisa main film,” ujarnya.

Kamarudin menilai manfaat KAMPIFF tidak hanya terlihat dari karya yang ditampilkan, tetapi juga dari perputaran ekonomi di sekitar lokasi kegiatan. Ia menyambut baik laporan panitia mengenai omzet pelaku usaha selama festival dan berharap dampak serupa bisa terus dirasakan masyarakat.

“Terima kasih dengan acara ini. UMKM tadi laporannya Rp200 juta sampai Rp300 juta, luar biasa. UMKM-nya sangat baik,” ucapnya.

Untuk menjaga keberlanjutan festival, Bupati meminta panitia memperkuat pengelolaan serta memastikan legalitas penyelenggaraan. Menurutnya, persiapan yang baik diperlukan agar KAMPIFF dapat berkembang dan memiliki kesempatan untuk digelar secara rutin.

“Saya berharap KAMPIFF terus berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan di Belitung Timur. Untuk itu, saya minta panitia mengelola dan menyiapkan legalitasnya dengan baik agar festival ini semakin berkembang. Saya juga minta Dinas Pariwisata Beltim agar menganggarkannya,” kata Kamarudin.

Wakapolda Babel Kenang Masa Kecil di Kelapa Kampit

Malam puncak KAMPIFF 2026 juga menjadi momen bagi Wakapolda Bangka Belitung, Brigjen Pol Murry Miranda, untuk mengenang masa kecilnya di Kelapa Kampit. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat bernostalgia dengan menanyakan lokasi rumah pertamanya dan jumlah bioskop yang pernah menjadi tempat hiburan warga pada masa itu.

Murry menyebut empat bioskop yang dikenangnya, yakni Bioskop Afa atau Mutiara, The Rani, Bioskop Wismaria dan Bioskop MPB. Setiap bioskop memiliki cerita tersendiri, termasuk perbedaan penonton di lingkungan pertambangan timah.

“Dulu Wismaria itu untuk anak-anak pejabat PT Timah, sedangkan MPB untuk anak-anak staf PT Timah. Kalau saya nonton di Wismaria, saya sampai mengintip lewat kaca nako,” kenangnya.

Dari sejumlah bioskop itu, Bioskop Afa menjadi salah satu tempat yang paling membekas bagi Murry. Pemiliknya, yang akrab disapa Ko Afa, kini dikenal sebagai Bupati Beltim, Kamarudin Muten. Murry mengingat bagaimana ia lebih mudah masuk untuk menonton ketika Kamarudin yang berjaga.

“Paling enak dulu kalau nonton di bioskop punya Afa, apalagi kalau dia yang jaga, cepat lolosnya. Kalau kakaknya yang jaga, setengah mati susah masuk,” tuturnya.

Kenangan itu juga berkaitan dengan sang nenek yang berjualan gorengan di depan Bioskop Afa. Saat neneknya pergi berjualan, Murry memiliki kesempatan untuk kembali menikmati film pada malam hari.

“Dulu nenek saya jualan gorengan di depan Bioskop Afa. Jadi, kalau nenek ke sana berjualan, malamnya saya nonton di bioskop Ko Afa,” ujarnya.

Kenangan masa kecil Murry di Kelapa Kampit terasa semakin dekat dengan malam puncak KAMPIFF melalui pemutaran film Memoar of Kampit. Film ini mengangkat perjalanan hidupnya, dari masa kecil di kampung halaman hingga dipercaya menjabat sebagai Wakapolda Bangka Belitung.

Kehadiran film tersebut mempertemukan kenangan pribadi Murry dengan semangat KAMPIFF untuk menghadirkan cerita melalui layar lebar. Di tengah perkembangan perfilman lokal, kisah dari daerah sendiri menjadi salah satu cara untuk merekam pengalaman, mengenalkan tokoh asal daerah dan memberi ruang bagi pembuat film untuk berkarya.