Beranda / Berita / Detil Berita

Anemia Remaja Putri di Beltim Menurun, Dinkes Perkuat Pencegahan

16 Okt 2026, 19:39 WIB • Feji
opd #Pencegahan Anemia #Tablet Tambah Darah #Pencegahan Anemia #Tablet Tambah Darah 46x dibaca

Bagikan

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Jumlah remaja putri yang terindikasi mengalami anemia di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) menunjukkan penurunan. Dari 405 orang pada 2025, jumlahnya tercatat 323 orang pada Juli 2026 dan kembali turun menjadi 281 orang pada triwulan III 2026.

Pencegahan anemia pada remaja putri dilakukan melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) serta pemberian tablet tambah darah (TTD). Program ini menyasar siswi kelas VII hingga XII di SMP, SMA atau sederajat, dengan anjuran konsumsi satu tablet setiap minggu atau minimal 26 tablet dalam setahun.

Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Beltim, Itta Erlina menjelaskan pemeriksaan Hb pada Juli 2026 dilakukan terhadap remaja putri kelas VII dan X. Pemilihan sasaran ini berkaitan dengan siswi yang baru memasuki jenjang sekolah serta berada dalam masa pertumbuhan.

“Pada Juli 2026, remaja putri yang terindikasi mengalami anemia sebanyak 323 orang atau 16,83 persen dari 1.919 orang sasaran. Angka ini menurun dibandingkan 2025 yang mencapai 405 orang atau 20,7 persen. Pada triwulan III 2026, jumlahnya tercatat 281 orang atau 14,6 persen,” jelas Itta.

Meski menunjukkan penurunan, pelaksanaan pencegahan masih menghadapi kendala, terutama dalam memastikan remaja putri mengonsumsi TTD secara rutin. Sebagian sekolah memberikan tablet untuk dibawa pulang sehingga konsumsi oleh siswi tidak selalu dapat dipantau langsung. Ada pula siswi yang menolak karena merasa mual atau lupa meminumnya.

“Kendala yang kami temui antara lain masih adanya remaja putri yang menolak mengonsumsi TTD karena mual dan ada juga yang lupa. Pemantauan kepatuhan minum TTD juga belum maksimal saat libur sekolah dan bagi siswi yang sudah lulus,” ungkapnya.

Untuk memperkuat kepatuhan, Dinas Kesehatan bersama puskesmas dan sekolah menyepakati jadwal konsumsi TTD secara bersama-sama. Pemantauan dilakukan melalui laporan kesehatan remaja dalam program UKS/M yang dapat dilihat orang tua di rumah maupun guru di sekolah.

Selain itu, program Aksi Bergizi terus digalakkan melalui kegiatan sarapan bersama, aktivitas fisik dan edukasi interaktif tentang kesehatan. Puskesmas juga bekerja sama dengan sekolah untuk melibatkan Duta Remaja sebagai konselor sebaya agar pesan pencegahan anemia dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan para siswi.

Bagi remaja putri yang sudah mengalami anemia, penanganan diberikan sesuai tingkat keparahannya. Pada anemia ringan dan sedang, penanganan meliputi terapi TTD sesuai kategori, edukasi mengenai asupan gizi seimbang serta pemeriksaan ulang kadar Hb pada bulan berikutnya. Sementara itu, remaja putri dengan anemia berat dirujuk ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dan menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Penanganan tidak hanya melalui pemberian tablet tambah darah, tetapi juga disertai edukasi gizi dan pemantauan kadar Hb. Jika ditemukan anemia berat, siswi perlu dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” kata Itta.

Upaya tersebut berjalan seiring dengan capaian program pencegahan anemia di Beltim pada triwulan III 2026. Cakupan pemeriksaan anemia pada remaja putri mencapai 100 persen, melampaui target nasional sebesar 77 persen. Sementara itu, persentase remaja putri yang mengonsumsi TTD mencapai 77,23 persen, di atas target nasional sebesar 67 persen.

Meski capaian program telah melampaui target nasional, Dinas Kesehatan masih berupaya menjangkau remaja putri yang tidak bersekolah. Penjangkauan dilakukan melalui Posyandu Remaja bagi mereka yang berusia 12–18 tahun agar edukasi gizi dan pencegahan anemia tidak hanya menyasar siswi di lingkungan pendidikan.

Ke depan, Dinas Kesehatan juga akan memperkuat pemeriksaan Hb secara berkala, meningkatkan pengawasan konsumsi TTD bersama di kelas serta memperluas edukasi gizi melalui sekolah dan masyarakat. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama dan sekolah turut diperkuat agar pencegahan anemia menjadi perhatian bersama melalui kebijakan sekolah maupun edukasi kesehatan yang berkelanjutan.

Melalui penguatan pemeriksaan kesehatan, pemantauan konsumsi TTD dan edukasi gizi, Dinas Kesehatan berupaya menjaga tren penurunan angka anemia sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan remaja putri.