Beranda / Berita / Detil Berita

Inovasi “Kulimbang” dan Madu Teran Beltim Jadi Sorotan di Forum Internasional Thailand

11/Mei/2026, 21:11 WIB • Ajeng

berita #Inovasi #Pertanian #Madu 👁️ 41x dibaca

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Inovasi pertanian dan peternakan asal Kabupaten Belitung Timur (Beltim) kembali mencuri perhatian di forum internasional. Dua potensi unggulan daerah, yakni inovasi KULIMBANG dan Madu Teran Beltim dipresentasikan dalam ajang The 7th International Joint Graduate Seminar (IJGS) di Maejo University, Thailand.

Adalah Hasbullah, pegawai Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Beltim yang saat ini tengah menempuh pendidikan Magister di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), bersama timnya memperkenalkan potensi lokal Beltim kepada peserta seminar dari berbagai negara ASEAN.

Saat dikonfirmasi, Diskominfo Beltim, Senin (11/5/26), Hasbullah mengatakan keikutsertaannya dalam forum internasional tersebut bukan sekadar membawa hasil penelitian akademik, melainkan juga menjadi upaya memperkenalkan kekayaan dan potensi daerah ke tingkat global.

“Melalui forum ini, saya tidak hanya membawa hasil riset, tetapi juga misi memperkenalkan potensi daerah agar dikenal secara internasional,” ungkap Hasbullah melalui What'sapp.

Dalam forum ilmiah tersebut, tim mempresentasikan inovasi KULIMBANG atau Kupi Liberika Manfaatkan Bekas Tambang, sebuah gagasan pemanfaatan lahan pascatambang untuk budidaya Kopi Liberika Bagu’ asal Kleka’. Selain itu, mereka juga membawa riset tentang Madu Teran melalui presentasi ilmiah berjudul Physicochemical of Teran Honey (Heterotrigona Itama) of Different Origins in Belitung Island, Indonesia.

Riset tersebut menyoroti kualitas Madu Teran sebagai produk Indikasi Geografis (IG) pertama dari Beltim yang memiliki karakteristik khas dan potensi ekonomi tinggi.

Menurut Hasbullah, forum IJGS menjadi ruang penting bagi mahasiswa dan peneliti untuk memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus membangun kolaborasi riset yang berdampak nyata bagi sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan.

Pria asal Kecamatan Damar ini pun mengutip pandangan Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro, yang menyebut bahwa IJGS bukan hanya ajang presentasi ilmiah, tetapi juga wadah mengasah kemampuan komunikasi ilmiah di tingkat internasional.

“Sebagai mahasiswa, kami didorong untuk membangun kolaborasi riset yang berdampak nyata bagi pengembangan peternakan dan pertanian berkelanjutan,” katanya.

Hasbullah berharap keterlibatan Beltim dalam forum internasional ini dapat menjadi pemantik bagi pengembangan riset dan inovasi daerah, khususnya di sektor pertanian dan peternakan.

Menurutnya, hasil-hasil riset yang dipresentasikan tidak boleh berhenti di ruang seminar, namun harus mampu diterapkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Implementasi dari hasil forum ini ditargetkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memberdayakan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan di Beltim,” ungkapnya.

Selain seminar ilmiah, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan untuk mempelajari pengelolaan potensi lokal di Thailand. Mulai dari perkebunan ganja medis yang dikelola Maejo University, industri hilirisasi madu di Big Bee Honey, hingga studi budaya ke pemukiman suku leher panjang sebagai referensi pengembangan wisata berbasis kearifan lokal.

Pengalaman tersebut, menurut Hasbullah, membuka wawasan baru tentang bagaimana riset, budaya, dan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah yang bernilai global.