Beranda / Berita / Detil Berita

Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan, Tradisi Tionghoa yang Terus Dijaga Lintas Generasi

28 Agt 2026, 16:00 WIB Fauzi
utama #Sembahyang Rebut 59x dibaca

Bagikan

Kelapa Kampit, Diskominfo SP Beltim – Malam kian pekat tatkala halaman Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit mulai dipenuhi warga. Ratusan orang datang menyaksikan rangkaian Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan yang berlangsung di kelenteng tersebut, Kamis (27/8/26) malam.

Bukan hanya warga Kelapa Kampit dan sekitar yang datang. Sejumlah masyarakat dari Tanjungpandan, Pontianak, Jakarta dan daerah lainnya turut hadir. Mereka datang untuk mengikuti sekaligus menyaksikan salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek.

Suasana semakin ramai menjelang puncak ritual. Sebelumnya, warga dan tamu menikmati hiburan yang menghadirkan artis dari luar Pulau Belitung. Namun, perhatian warga perlahan tertuju pada halaman kelenteng ketika prosesi utama mulai dipersiapkan.

Puncak Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan ditandai dengan pembakaran patung raksasa Thai Se Ja setelah pukul 23.00 WIB. Patung berukuran belasan meter tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual. Bersamaan dengan pembakaran Thai Se Ja, warga juga membakar replika kapal kertas atau kendaraan lainnya yang menjadi bagian dari simbolisasi ritual.

Sebelum prosesi tersebut, warga yang hadir mengikuti tradisi berebut berbagai sesajen berupa makanan dan buah yang sebelumnya telah didoakan. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Tionghoa di Kelapa Kampit.

Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit, Kamarudin Muten mengatakan pelaksanaan Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun.

Menurutnya, suasana pada hari pelaksanaan ritual memang tidak selalu terlihat seperti sebuah perayaan besar. Hal tersebut karena masyarakat lebih banyak mengikuti rangkaian ritual dan doa yang menjadi bagian utama kegiatan.

“Seperti biasa tiap tahun kalau Chit Nyet Pan hari H-nya karena semua ada ritual,” ungkap Kamarudin.

Kemarin, kata Kamaradin kemeriahan akan kembali terlihat saat seluruh masyarakat berkumpul dalam resepsi yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di kelenteng.

Keberlangsungan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang diwariskan antargenerasi masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Kelapa Kampit.

Doa untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Bagi masyarakat yang hadir khususnya dari Etnis Tionghua, Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan bukan hanya menjadi momentum berkumpul. Tradisi tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga hubungan sosial dan mempertahankan warisan budaya yang telah dijalankan dari generasi ke generasi.

Sebagai Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Che, Kamarudin menyampaikan harapannya terhadap pelaksanaan ritual tahun ini. Menurutnya, doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan harapan agar kehidupan masyarakat pada tahun ini dapat berjalan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Yang pasti tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin,” ucap Bupati Beltim ini.

Harapan tersebut menjadi bagian dari doa masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan. Di tengah berbagai dinamika kehidupan, ritual keagamaan dan budaya menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk berkumpul serta menyampaikan harapan bagi keselamatan dan kehidupan yang lebih baik.

Kegiatan di Kelenteng yang berusia ratusan tahun ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Warga dari berbagai tempat datang, berkumpul dan menyaksikan prosesi yang telah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Tionghoa di Kelapa Kampit.

Di tengah kemeriahan hiburan dan ramainya warga, tradisi tetap menjadi pusat kegiatan. Pembakaran Thai Se Ja menjelang tengah malam menjadi penanda berakhirnya rangkaian ritual.