Beranda / Berita / Detil Berita

Pemkab Beltim Ajak Petani Tingkatkan Produktivitas Sawit dengan Pemupukan Efisien

29/Apr/2026, 08:20 WIB • Feji

utama #Petani #Petani Sawit 👁️ 49x dibaca

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Di tengah tantangan produktivitas sawit yang masih rendah, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Beltim) terus mendorong penggunaan teknologi pemupukan yang lebih tepat guna melalui kegiatan Sosialisasi Teknologi Pupuk Mikro Majemuk di Ruang Satu Hati Bangun Negeri, Selasa (29/04/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Mitra Cipta Agro (MCA) bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Beltim. Kegiatan diikuti oleh puluhan warga yang berprofesi sebagai petani, baik petani kelapa sawit, petani padi, maupun petani lada.

Dalam kegiatan tersebut, para petani yang hadir juga mendapatkan pupuk gratis sebagai sampel untuk diuji coba di lahan masing-masing, khususnya bagi petani kelapa sawit. Setiap peserta menerima dua jenis pupuk, yakni pupuk berwarna hijau untuk tanaman kelapa sawit dan pupuk berwarna biru untuk tanaman padi. Melalui uji coba ini, diharapkan petani dapat melihat langsung efektivitas penggunaan pupuk mikro, sebelum nantinya memutuskan untuk menggunakannya secara lebih luas.

Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Beltim yang disampaikan melalui sambutan Bupati Beltim, Kamarudin Muten yang dibacakan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ikhwan Fahrozi. Dalam sambutannya, Bupati Kamarudin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk sinergi antara pemerintah, pihak swasta, dan petani dalam mendukung kemajuan sektor perkebunan.

“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk sinergi antara pemerintah, pihak swasta dan para petani dalam mendukung kemajuan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa jumlah petani sawit swadaya di Beltim hingga akhir tahun 2025 mencapai sekitar 2.325 petani dengan luas lahan 6.205,09 hektare. Namun, produktivitas yang masih berada di kisaran 480,19 kilogram per hektare dinilai masih memiliki peluang besar untuk ditingkatkan.

“Produktivitas yang masih berada di kisaran 480,19 kilogram per hektare menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat besar untuk peningkatan hasil produksi,” lanjutnya.

Menurutnya, di tengah meningkatnya harga pupuk, diperlukan solusi pemupukan yang lebih efektif dan efisien agar petani tetap dapat meningkatkan hasil tanpa terbebani biaya yang tinggi.

“Di tengah tantangan harga pupuk yang terus meningkat, diperlukan solusi pemupukan yang lebih efektif dan efisien. Semoga para petani dapat memperoleh pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan hasil dan kesejahteraan,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber kegiatan Prof. Didiek Hadjar Goenadi saat diwawancara menjelaskan pentingnya pemenuhan unsur hara bagi tanaman, baik makro maupun mikro, guna mendukung pertumbuhan dan produktivitas yang optimal.

“Pada dasarnya semua tanaman memerlukan makanan. Sementara tanah hanya mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah terbatas, sehingga diperlukan pemupukan, baik unsur makro maupun mikro,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa unsur mikro memiliki peran yang sangat krusial, meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil dan kerap diabaikan oleh petani.

“Unsur mikro itu sangat penting tetapi sering diabaikan. Inilah salah satu penyebab produktivitas sawit termasuk di Belitung masih relatif rendah karena banyak petani belum mengetahui pentingnya unsur tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga memperkenalkan teknologi pupuk mikro majemuk berbasis EDTA yang dinilai mampu meningkatkan efektivitas penyerapan unsur hara oleh tanaman.

“Teknologi ini menggunakan EDTA sebagai pelapis, sehingga unsur hara tidak mudah terikat oleh tanah dan dapat diserap secara optimal oleh tanaman. Ini menjadi salah satu keunggulan dari produk pupuk mikro yang diperkenalkan,” ungkapnya.

Terkait kondisi tanah di Beltim, ia menilai bahwa karakteristik tanah yang sudah tua dan miskin unsur hara justru menjadikan teknologi ini relevan untuk diterapkan.

“Tanah di Belitung Timur pada umumnya sudah tergolong tanah tua dan miskin nutrisi. Kondisi ini mirip dengan banyak wilayah di Indonesia, sehingga penggunaan pupuk mikro seperti ini sangat cocok untuk meningkatkan kesuburan tanah,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tanah sebagai aset utama dalam usaha perkebunan.

“Tanah adalah aset utama bagi petani. Karena itu harus dijaga dengan baik. Mari kita berhenti mendzolimi tanah agar tetap produktif dan berkelanjutan,” pungkasnya.