Manggar, Diskominfo SP Beltim – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) sepanjang 2026 mencapai angka mengkhawatirkan. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Beltim per Selasa, 27 Oktober 2026, tercatat sebanyak 411 kejadian karhutla dengan total luas area terdampak mencapai 832 hektare.
Angka karhutla ini menjadi yang tertinggi dan terluas dibanding-banding tahun sebelumnya. Bahkan diklaim kasus yang paling banyak dan luas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Elnino jadi sumber utama tingginya angka ini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Beltim, Robby Yanuar mengungkapkan kebakaran mulai terjadi pada penghujung Juni dan terus meningkat seiring kondisi lahan yang mengering. Puncak kejadian berlangsung pada Agustus dengan 143 kasus, kemudian turun menjadi 109 kasus pada September.
Meski mengalami penurunan, kebakaran masih terus terjadi hingga Oktober. Sampai 27 Oktober, tercatat 68 kejadian karhutla sepanjang bulan tersebut.
“Puncaknya sendiri terjadi di bulan Agustus. Per Agustus itu 143 kejadian dan per hari ini, Oktober, ada 68 kejadian,” kata Robby.
Menurutnya, pada puncak kejadian di Agustus, kebakaran dapat mencapai 10 hingga 12 kejadian dalam sehari. Sementara pada Oktober, rata-rata masih terjadi sekitar tiga hingga lima kebakaran setiap hari, dengan luasan lahan terdampak yang dalam sejumlah kejadian cukup besar.
“Sebaran karhutla terjadi di berbagai wilayah Beltim. Kecamatan Manggar mencatat jumlah kejadian tertinggi, yakni 160 kasus. Berikutnya Kecamatan Gantung dengan 119 kasus dan Kecamatan Damar sebanyak 98 kasus,” beber Robby.
Pada tingkat desa, Desa Padang Kecamatan Manggar menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 112 kasus. Sukamandi Kecamatan Damar dan Selingsing Kecamatan Gantung masing-masing mencatat 63 kejadian.
Dari sisi jenis tutupan lahan, area terbuka dan semak belukar menjadi bagian yang paling banyak terdampak dengan luas 745 hektare. Selain itu, kebakaran juga melanda area perkebunan seluas 70 hektare dan kawasan hutan seluas 17 hektare.
“Besarnya angka tersebut menjadikan karhutla sebagai salah satu persoalan kebencanaan yang perlu mendapat perhatian serius di Beltim. Luas lahan yang terdampak tergolong paling besar dibandingkan wilayah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ungkap Robby.
Lahan Kering, Angin Kencang, dan Aktivitas Manusia Jadi Penyebab
Didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD, Supandi, Robby menjelaskan kondisi lahan yang mengering sejak Juni membuat rumput dan vegetasi lebih mudah terbakar. Situasi tersebut diperparah oleh angin yang cukup kencang sehingga api dapat dengan cepat menjalar ke area di sekitarnya.
Mantan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah ini menyebut sejumlah penyebab kebakaran yang ditemukan di lapangan antara lain pembukaan lahan, pembakaran sampah, serta puntung rokok yang dibuang sembarangan. Dalam kondisi kering dan berangin, sumber api yang kecil sekalipun dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
“Di Agustus itu bermacam-macam kejadian. Ada yang memang disengaja, ada pembukaan lahan, ada buang pembakaran sampah. Itu kebanyakan apinya merambat karena angin bertiup cukup kencang,” jelasnya.
BPBD juga mengingatkan bahwa sebagian besar kejadian karhutla berkaitan dengan aktivitas manusia. Karena itu, pencegahan dinilai tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas pemadam, tetapi juga pada perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api.
Kolaborasi Pemadaman Libatkan Berbagai Unsur
Di tengah tingginya frekuensi kebakaran, BPBD Beltim mengandalkan koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai unsur untuk mempercepat penanganan di lapangan. Selain BPBD dan unit pemadam kebakaran Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Beltim, dukungan datang dari unit pemadam milik sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan perkebunan kelapa sawit. Unsur TNI, kepolisian, serta masyarakat juga terlibat dalam penanganan sejumlah kejadian.
Supandi menjelaskan, keberadaan unit pemadam di wilayah utara, tengah, dan selatan membantu memperluas jangkauan pelayanan. BPBD bersama petugas terkait dapat menyesuaikan pengerahan personel berdasarkan lokasi kebakaran dan kebutuhan bantuan di lapangan.
“Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kebakaran dengan luasan besar. Pernah terjadi kebakaran yang melanda area sekitar 19 hektare dalam satu kejadian, penanganan peristiwa seperti ini membutuhkan personel dan peralatan yang memadai serta dukungan lintas unsur,” ujar Supandi.
Pria yang akrab dipanggil Cikut ini menyatakan, kolaborasi menjadi bagian penting agar kebakaran dapat ditangani secepat mungkin dan tidak meluas ke area lain. BPBD Beltim mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi lahan masih kering. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta tidak membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar.
“Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin. Untuk laporan darurat kebakaran lahan, masyarakat dapat menghubungi layanan BPBD Beltim di nomor 0878-6977-5023, yang disediakan selama 24 jam,” tambah Supandi.