Beranda / Berita / Detil Berita

Beltim Deflasi 0,27 Persen Oktober 2026, Daging Ayam dan Ikan Turun Harga

02 Nov 2026, 21:38 WIB • Feji
berita #Inflasi #BPS #Inflasi #BPS 17x dibaca

Bagikan

Manggar, Diskominfo SP Beltim – Harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mengalami penurunan pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Beltim mencatat deflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan (month-to-month), dengan daging ayam ras dan sejumlah jenis ikan menjadi komoditas yang memberikan andil terhadap penurunan indeks harga.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis Senin (2/11/2026), deflasi Oktober terjadi setelah Beltim mengalami inflasi pada bulan sebelumnya. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,53 persen, sedangkan kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi sebesar 0,64 persen.

Kepala BPS Kabupaten Beltim, Dwi Widiyanto menjelaskan perkembangan harga tersebut diperoleh melalui survei yang dilakukan secara mingguan maupun bulanan.

“Angka perkembangan harga yang kami rilis merupakan hasil survei yang dilakukan secara rutin, baik mingguan maupun bulanan. Kami memantau harga 225 komoditas melalui responden pedagang dan pelaku usaha untuk melihat perubahan harga di pasar,” jelas Dwi.

Menurutnya, penurunan harga sejumlah komoditas pangan mulai terlihat menjelang akhir Oktober. Kondisi cuaca yang berangsur membaik turut mendukung aktivitas masyarakat, terutama nelayan yang sebelumnya menghadapi kondisi cuaca kurang mendukung.

“Menjelang akhir Oktober, harga daging ayam ras mulai mengalami penurunan. Kondisi cuaca juga mulai bersahabat sehingga harga ikan perlahan turun. Perkembangan ini tercermin dalam hasil pemantauan harga yang kami lakukan,” sambungnya.

BPS mencatat ikan kerisi menjadi komoditas dengan andil deflasi bulanan terbesar, yakni 0,19 persen. Selanjutnya, daging ayam ras memberikan andil 0,15 persen, ikan kembung 0,14 persen dan ikan bulat 0,11 persen. Komoditas lainnya yang turut menyumbang deflasi di antaranya ikan ekor kuning, cumi-cumi, ketimun, ikan dencis, kentang dan terong.

Meski demikian, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan harga. Sejumlah komoditas justru memberikan andil inflasi bulanan, antara lain cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, ikan selar, mi kering instan, beras, ikan tenggiri, kangkung dan tomat.

 Pemkab Beltim Apresiasi Deflasi Oktober, Tetap Waspadai Kenaikan Harga November

Penurunan harga sejumlah komoditas pangan pada Oktober mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Beltim. Bupati Beltim, Kamarudin Muten melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Bayu Priyambodo mengapresiasi upaya TPID dalam menjaga stabilitas harga, salah satunya melalui pelaksanaan operasi pasar murah pada minggu terakhir Oktober.

Meski demikian, Bayu meminta TPID tidak lengah menghadapi perkembangan harga pada November. Kondisi cuaca yang masih belum menentu, kenaikan harga cabai serta kebutuhan untuk memastikan ketersediaan pasokan ayam menjadi sejumlah hal yang perlu diantisipasi.

“Walaupun pada Oktober kita mengalami deflasi, kita tetap harus waspada karena kondisi cuaca ke depan masih belum menentu. Harga cabai mulai naik dan pasokan ayam juga perlu menjadi perhatian, terlebih dengan adanya sejumlah SPPG yang sudah diresmikan. Saya meminta TPID Beltim segera melakukan langkah antisipasi, termasuk memastikan kelancaran distribusi dan terus menggalakkan Gerakan Pangan Murah sebagai salah satu upaya pemerintah daerah,” ujar Bayu.

Bayu juga mengingatkan agar deflasi tidak serta-merta dimaknai sebagai penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, penurunan harga perlu didukung oleh peningkatan pasokan dan berbagai intervensi pemerintah daerah agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

“Kita berharap deflasi ini bukan terjadi karena daya beli masyarakat menurun, melainkan karena pasokan yang meningkat dan adanya intervensi pemerintah daerah. Saya juga berharap seluruh pihak dapat bekerja sama menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat, sehingga inflasi Beltim pada akhir tahun nanti dapat tetap terkendali, maksimal tiga persen,” harapnya.

Di tengah deflasi bulanan, perkembangan harga di Beltim masih menunjukkan kenaikan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Oktober 2026 sebesar 2,71 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,66 atau meningkat dari 106,77 pada Oktober 2025.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 1,68 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,29 persen.

Penurunan harga pada Oktober menjadi perkembangan positif, tetapi kestabilan harga tetap perlu dijaga menjelang akhir tahun. Ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan pelaksanaan intervensi pasar menjadi perhatian agar daya beli masyarakat tetap terpelihara.